MUI Riau Nyatakan Bisnis MLM QNET Terindikasi Haram

MUI Riau Nyatakan Bisnis MLM QNET Terindikasi Haram

Riauterkini-PEKANBARU- Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau Ustadz Abdurrahman menyampaikan hasil kajian terkait pengaduan bisnis multi level marketing atau MLM QNET, Selasa (17/6/14). MUI Riau menyimpulkan, bahwa bisnis MLM QNET tidak mememuhi syarat MLM halal sebagaimana ditetapkan MUI pusat.

“Kami menerima pengaduan dari masyarakat terkait MLM QNET dan setelah melakukan pengkajian, kami simpulkan bahwa MLM QNET terindikasi kuat haram,” ujarnya kepada riauterkinicom.

Dipaparkan Ustadz Abdurrahman, dari dokumen kontrak atau pernyataan peserta MLM QNET yang dipelajari dan produk yang dijadikan barang bukti, sistem MLM yang dikembangkan QNET mengandung unsur penipuan, sangat berpotensi menimbulkan kerugian salah satu pihak dan ketidakjelasan.

Sebagai contoh, setiap peserta diwajibkan membeli produk berupa Cakra, berupa lempengan kaca bening bulat sebesar telapak tangan atau Simpeden, berupa lempengan logal bundar sebesar uang logal Rp100 lama berbentuk gantungan kalung, seharga Rp8 juta. Barang itu, menurut pihak QNET, mahal karena merupakan benda terapi kesehatan.

“Pembayarannya harus tunai, tetapi barangnya baru diserahkan pada pembeli berbulan-bulan kemudian. Bahkan, ada yang sampai lima bulan baru mendapatkannya,” tuturnya.

Selain membayar tunai, namun tak langsung mendapatkan barang yang dibeli, harga Cakra ataupun Simpeden diyakini sangat jauh dari nilai yang sesungguhnya.

“Kita (masyarakat.red) mungkin disuruh beli barang itu (Cakra ataupun Simpeden.red) limapuluh ribu pun mungkin tak mau,” tuturnya.

Lebih lanjut Ustadz Abdurrahman, selain harus membayar Rp8 juta untuk barang yang dianggap tak bernilai tersebut, peserta MLM QNET wajib mengajak enam peserta baru bertransaksi dengan nilai masing-masing Rp8 juta, baru mendapatkan bonus Rp3,5 juta.

Berangkat dari kesimpulan ketidak-halalan sistem MLM QNET, Ustadz Abdurrahman menghimbau kepada masyarakat Riau, terutama Umat Islam untuk menghindari bisnis tersebut.

Sementara itu, Fery Wibowo, salah seorang pimpinan PT Amuba Intenasional, pemegang lisensi QNET Indonesia, wilayah Riau saat ditemui riauterkinicom di salah satu gang di Jalan Bukitbarisan Pekanbaru, menyebutkan kalau bisnisnya legal dan halal.

“Kami memiliki izin resmi dan juga punya sertifikat halal dari NU Jakarta Selatan,” ujarnya.

Selain itu, Fery Wibowo mengancam akan mempidanakan pihak-pihak yang menuding kegiatan usaha QNET yang berbasis di Hongkong, mengandung unsur penipuan.

“Kalau ada yang berani menyebut QNET merupakan penipuan, saya jamin dalam waktu beberapa jam yang bersangkutan bakal berstatus jadi tersangka,” ancamnya ketika itu.***(mad)

Leave a Reply

Your email address will not be published.